“Melihat Kesibukan Langit”

Oleh: Fariz Amrullah

Tubuhku terbang
ditarik langit yang sepertinya sejak lama jengkel padaku
Karena beberapa kali tak kupenuhi undangannya

Undangan sekedar ngeteh saat langit menggerimiskan air yang membasahi pepohonan di bukit-bukit

Aku memilih untuk tak beranjak, menunggu buah terjatuh dari satu-satunya pohon di kebunku
Yang kutanam beberapa tahun lalu

Kebunku yang tak seberapa luas namun subur tanahnya
Dan berat rasanya, meninggalkan tak merawatnya
Langit semakin kuat menarikku
Kuraih batang pohon-pohon yang ada, agar tak tertarik
Akar pohon-pohon tercerabut, ranting-ranting patah, daunnya berhamburan.
Dalam kepasrahan angin terus mengangkatku, ia berbisik;

“pohon buah yang kau tanam nanti juga akan berbuah banyak, dan rasanya tentu manis”

Di hadapan teh yang sudah disajikan
Kulihat langit diam saja tak banyak bicara
Sebentar-sebentar aku ditinggalnya kesana kemari
Kadang mewujud hujan
Kadang berparaskan sinar
Kadang melukis pelangi
Katanya, semuanya itu ia lakukan untuk bumi

Ada waktu, bumi dipeluknya
Seketika itu juga, jadilah malam
Yang terus dalam keterjagaan merawat jutaan mimpi-mimpi

Yogyakarta, 14 April 2018