Puisi

Revolusi Belum Selesai

Oleh Fariz Amrullah

Membaca riwayat pungkasan Nabi
;Kala pulang membawa kemenangan
Selepas menaklukkan kaum yang merintangi jalan
Dikatakannya; “setelah ini medan juang berkali lipat sukarnya”
berat untuk dapat menaklukannya
Genderang perangnya senyap
Penuh siasat dan tipu muslihat
Kenali medan itu, akrabi, dan tundukkan

Revelusi belum selesai…

Iklan
Standar
Puisi

“Suatu Sore dan Jendela Yang Terbuka”

Oleh Fariz Amrullah

Pada suatu sore di awal April
Kurebahkan seluruh badanku dalam sunyi kamar
Menyendiri
Menerawang langit dari celah jendela
Hujan berhenti langit kelabu
Jiwaku yang tengah terkatung lalu memejamkan mata
Kurasakan angin masuk, perlahan menyejukkan
Udara memenuhi seisi kamar
Langit mulai gelap
Jendela kubiarkan terbuka

Yogyakarta, 02 April 2018

Standar
Esai

“Maha Penting Sejarah dengan Segala Hikmahnya”

Oleh Fariz Amrullah

Keberadaan kita saat ini erat kaitannya dengan sejarah masa lampau kita. Keberadaan kita, meliputi mulai dari cara pandang kita, dan keyakinan yang kita pegang saat ini sedikit banyak ada sentuhannya dengan sejarah kita, atau yang kita alami di masa lampau. Bahkan, pengetahuan bagaimana kita bertindak pada masa sekarang kerap didasari atau memakai acuan masa lampau. Sederhananya, sejarah punya andil mempengaruhi kepribadian kita.

Percaya atau tidak percaya. Bung Karno toh telah berpesan dengan lugas; “Jas Merah!”. Manfaatnya memang nyata besar sekali, tatkala sejarah itu kita posisikan sebagai pengingat. Pengingat untuk kita selalu mawas diri. Tidak pelak lagi itulah mengapa kitab suci pun banyak memuat sejarah dari kisah-kisah lampau para pendahulu. Di dalamnya terdapat keterangan, bahwa dengan membaca kisah para pendahulu yang sarat dinamika, kita dianjurkan mengambil setiap pelajarannya.

Dinamika bangkit dan terpuruknya para pendahulu adalah termasuk pokok yang bisa kita pelajari. Apa sebab mereka (pendahulu) bagkit, dan apa sebabnya bisa terpuruk. Mental yang seperti apa yang menjadi faktor para pendahulu dapat bangkit, dan mental yang bagaimana yang membawa mereka (pendahulu) kepada keterpurukan.

“Jangan mau mudah terperosok di lubang yang sama!” Kira-kira pesan implisit itu lah yang ingin disampaikan kepada kita dari mengkaji sejarah. Atau layaknya pengendara sebuah kendaraan, kendaraan kita perlu dilengkapi kaca spion untuk sesekali melihat ke belakang.

Dalam analogi berkendara, keadaan di belakang kita yang tengah berkendara ialah yang kita analogikan dengan sejarah. Kita akan jalan lurus atau belok, kita memerlukan untuk tetap melihat kaca spion. Kedadaan di belakang itu (sejarah) menjadi pertimbangan kita setiap akan menambah kecepatan, setiap akan nge-rem, dan setiap akan belok. Jangan tidak melihat kaca spion! menyalakan lampu sent sebelah kiri, eeeh beloknya ke kanan. Itu mah para Ibuk-ibuk kita, penguasa jalanan. Hehe

//Pict. taxedo.com

Standar
Literasi

Mang Didin, Loper Koran yang Saya Kangeni

Oleh Fariz Amrullah

/Kangen; Perasaan wajar yang sering dirasakan manakala ingatan akan kesan-kesan istimewa kembali bertamu menyambangi kita. Sebab itu, maka kita ingin dapat kembali bersua dengan yang kita kangeni itu.

Mengingat masa-masa belasan tahun yang lalu, ketika usia saya masih belia, dan ketika itu menjelang akan masuk Sekolah Dasar (SD). Merasakan pengalaman yang jika direnungkan saat ini, adalah masa yang boleh dikatakan mempengaruhi kesenangan saya dalam membaca. Yaitu masanya orang tua saya berlangganan koran.

Waktu itu koran yang biasa dibaca orang tua saya koran Pikiran Rakyat disingkat “PR”. Mang Didin nama loper koran, setiap hari, di jam siang datang mengantar koran. Di jam siang itu, keluarga sudah bersantai. Bapak-Ibu biasanya sudah pulang dari tugas mengajar. Nah, jadilah koran yang baru diantar Mang Didin, dibaca oleh Bapak dan Ibu saya, bergantian saling tukar halaman. Hingga keduanya (orang tua saya) ngantuk, lalu tidur siang. Pemandangan itu saya saksikan setiap hari.

Adapun saya, dalam hal membaca koran masa itu belum sekafah Bapak-Ibu. Rubrik Sosial-Politik, ekonomi, dsb. saya abaikan. Maklum masih bocah. Belum ada ketertarikan membaca perkara yang saya sebut tadi. Saya biasanya hanya mencari rubrik Olah Raga. Ya! Berita Persib yang selalu menjadi buruan saya. Jadi saya ngefans Persib Bandung sejak kecil. Sejak belum masuk SD. Loh sudah bisa membaca? Ya, saya, dan saudara-saudara saya sudah diajarkan membaca oleh orang tua sebelum masuk Sekolah Dasar.

Kini, setelah belasan tahun. Persis saat saya duduk-duduk seorang diri di beranda rumah selepas isya, ditemani secangkir kopi dan kepulan asap rokok yang saya hisap, menyeruak ingatan pada kenangan masa-masa Mang Didin setiap hari mengantarkan koran, ingatan Bapak-Ibu bertukar halaman koran yang dibaca, ingatan halaman khusus mengulas Persib Bandung, dan yang paling istimewa ialah aroma bau koran yang bau kertasnya sangat khas baru dari cetakan.

Ada kenangan lain terkait yang saya baca awal mula. Majalah Bobo! Kala itu saya sering minta sekalian dibelikan Majalah Bobo oleh Ibu saya ke Mang Didin. Kebetulan Mang Didin menyediakan majalah tersebut. Kesan awalnya selaku bocah langsung tertarik. Majalah edukasi untuk anak-anak yang dipenuhi gambar atraktif dan menghidangkan cerita anak-anak penuh pesan moral. Sayang, entah di mana majalah-majalah itu sekarang.

Mang Didin masuk dalam ingatan saya sebagai sosok penting, membantu dalam hal penyediaan bacaan pada awal mula pertumbuhan saya menuju pertambahan usia. Sosok Mang Didin bisa digambarkan secara fisik; sosoknya kecil, badannya tidak terlalu tinggi. Perangainya sangat santun, menunjukkan kepribadian pekerja keras karena didorong kepedulian mempublikasi bacaan kepada masyarakat. Tak peduli jauhnya daerah yang akan diantar koran. Daerah saya termasuk pedesaan yang terpencil.

Kini sudah lewat belasan tahun dari masa-masa di mana masih dapat melihat sosok Mang Didin yang kulitnya legam kepanasan karena kerjaannya mengantarkan koran-koran saat panas terik. Kini ia tidak pernah datang lagi. Terakhir datang sudah belasan tahun lalu. Padahal saya rindu. Ya rindu pada Mang Didin, ya rindu kebiasaan membaca koran yang diantar mang Didin.

Sembari ketika menyeruput kopi, saya teringat sebuah toko buku/alat tulis di bilangan pasar kecamatan Pamarican, kecamatan yang menaungi desa saya. Di sana saya ingat dulu menyediakan koran PR. Oke, saya memutuskan besok ke sana mencarinya esok. Ngantuk, saya pun berjalan menuju kamar dengan rasa tak sabar esok segera tiba. Seperti tak sabarnya hendak menemui kekasih.

“…Aduh, A, atos lami henteu ngaical deui koran. Da teu aya anu meserna oge” (Yah, Mas, sudah lama di sini tidak menjajakan koran. Pembacanya pun sudah jarang). Rasanya membuat lutut seketika lemas. Mendengar penjaga toko alat tulis yang saya kira masih menjajakan koran. Baiklah, saya berusaha menghibur kekecewaan dengan menunjukan sikap mewajarkan, memang sekarang eranya konvergensi media. Semoga pembaca benar-benar beralih media bacaannya. Dari kertas ke gadget.

Tapi kok rasanya ada yang masih mengganggu pikiran saya. Daerah saya semakin minim akses kesediaan bacaan berbentuk koran. Jika gadget menggantikan koran, mayoritas, apakah betul gadget sudah digunakan untuk mengakses informasi yang dapat menambah wawasan. Belum lagi mengingat pemakainya yang mayoritas golongan anak muda milenial. Apakah benar-benar gadget oleh mereka dimanfaatkan secara positif. Untuk menunjang produktifitas misalnya. Atau minimal membuka laman berita untuk mengetahui perkembangan apa pun yang terjadi di sekitar. Ada tren yang nampak sudah bagus memang, sebagian ada yang memanfaatkannya untuk mempromosikan usahanya. Seperti tetangga saya Kang Ma’un (Saprol) menjadikan IG nya untuk jualan onderdil sepeda motor. Atau kakak perempuan saya, bisnis pakaian anak, dan popok anak lewat medsos. Tren yang perlu diapresiasi.

Jadi, apapun kata kuncinya adalah pengetahuan. Modalnya, bahwa pemahaman untuk memiliki pengetahuan harus terus ditanamkan. Proses awalnya dengan adanya minat membaca harus ada pada benak kita. Pengetahuan atau ilmu, dalam term Islam adalah alat untuk dapat merengkuh kebahagiaan dunia bahkan akhirat.

Bagaimana ketika mengingat dan menyadari bahwa kita menghadapi problem yang menghawatirkan ini. Bahan bacaan sudah minim, bagaimana seyogyanya memanfaatkan gadget belum sepenuhnya dipahami masyarakat di lingkungan saya yang rata-rata memang kelas menengah ke bawah.

Dalam keadaan seperti ini saya sangat kangen Mang Didin. Beri saya semangatmu, Mang! Kalau toh tidak sebagai loper koran, akan saya coba cara lain bergerak di lingkungan bersama-sama masyarakat agar bisa meningkatkan derajat kami sebagai masyarakat melalui kecintaan terhadap sumber ilmu.

Tulisan ini untuk mengenang, sekaligus sebagai ungkapan terimakasih saya kepada Mang Didin, yang jasanya telah memantik saya dalam hal keharusan meluaskan cakrawala pengetahuan hidup di tengah-tengah masyarakat yang bercita-cita merengkuh kebahagiaan bersama. semoga keadaan beliau senantiasa dalam lindungan Allah SWT.
Standar
Celoteh Mahasiswa

“Bedanya Negarawan Dulu dengan Sekarang”

Oleh Fariz Amrullah

“Jujur, lugu dan bijaksana. Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa rakyat Indonesia.”
Adalah potongan lagu yang dinyanyikan Iwan Fals, sengaja dikarang untuk mengenang sosok Bung Hatta. Satu hal yang dapat kita pahami, jiwa kenegarawanan sejati pemimpin bangsa dulu mampu menginspirasi seseorang untuk melukiskannya menjadi sebuah lagu. Sang Musisi Iwan Fals tidak mungkin mengada-ada melukis Bung Hatta dalam lagunya. Faktanya memang Bung Hatta atau Bung Besar ituuu…ah, baca sajalah, cari tahu sendiri di dalam buku-buku sejarah atau biografinya. Temukan seperti apa istimewanya sosok Bung Hatta.

Sebagai anak bangsa, sifat jujur, lugu, dan kebijaksanaan Bung Hatta terbentuk sebab kecintaan kepada negerinya, negeri di mana ia lahir. Maka pendidikan baginya menjadi sesuatu yang tak dapat ditawar-tawar, perlu untuk digali sebagai penunjang tekadnya, agar kelak bersama-sama dengan seluruh rakyat yang dicintainya menentukan sendiri secara mandiri, arah kebebasan atau kemerdekaannya bangsa ke depan.

Sepanjang hayatnya, Bung Hatta mengabdikan diri untuk rakyat Indonesia. Ketajaman pemikirannya merumuskan pijakan terutama dalam perekonomian sangat bercorak kerakyatan. Dalam sistem kenegaraan pun, ia sangat jeli menimbang-nimbang ke mana harus berkiblat. Hal ini tertuang dalam karyanya “Demokrasi Kita”. Karyanya tersebut memperkaya ruh demokrasi kebangsaan yang kita anut hingga hari ini.

Sumbangsih pemikirannya dalam membangun negara ialah sebentuk kecintaan, serta kepeduliannya selaku negarawan. Hal demikian diperkuat oleh etiket kesehariannya yang bersahaja, teguh pendirian, sederhana, serta jujur. Ia pun sangat menjunjung idealisme yang didorong kepentingan rakyat banyak.

Tidak heran, Iwan Fals menulis di dalam lagunya bahwa sifat inti lain yang dimiliki Bung Hatta yaitu “mengerti apa yang terlintas dalam jiwa Rakyat Indonesia”. Sebab sifat itulah, maka Bung Hatta mengerti harus berbuat apa untuk rakyat yang dicintainya. Karena dalam berbuat sesuatu ia selalu berdasar suara Rakyat yang begitu dekat di hatinya.

Semua sikap kenegarawanan yang dimiliki Bung Hatta itu, menciptakan ketenangan di hati seluruh rakyat Indonesia. Ketenangan yang jarang bisa kita rasakan lagi hari ini. Sebab karakter (negarawan?) hari ini begitu kontras dengan laku hidup Bung Hatta. Alih-alih menciptakan ketenangan, para elit yang seyogyanya menunjukkan sifat kenegarawanan sejati justru yang dilakukannya hari ini memantik keresahan di hati rakyat. Cara berpolitiknya berpotensi menimbulkan ketegangan horizontal, bahkan dapat menyebabkan perpecahan.

Adakah yang mengaku negarawan hari ini bisa menginspirasi, minimal dikenang dalam sebuah syair lagu? Barangkali sukar. Jika Bung Hatta dikenang karena dalam membangun bangsa selalu menjunjung prinsip luhur (memprioritaskan keutuhan bangsa dalam bingkai keragaman), maka sifat istimewa apa kiranya hari ini bisa diangkat untuk mengapresiasi sosok yang katanya negarawan? Mungkin ada, di antaranya bisa dibuat dalam bentuk lagu elegi kekecewaan, bisa juga kita buat lagu bernada cacian. Nah, paling mentok dan ini puncak emosional kita; lagu dengan nada “kutukan!”

Standar
Celoteh Mahasiswa

Merawat Tunas

Oleh Fariz Amrullah

Apa yang membuat seorang aktivis mahasiswa dapat dikategorikan “aktivis mahasiswa ideal” hari ini? Pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk memaknai aktivis mahasiswa yang simplitis. Melainkan mencoba mengajak merefleksikan kembali identitas aktivis mahasiswa yang mulai samar indikatornya sebagai aktivis dalam melakoni dunia kemahasiswaan hari ini.

Yang membuat aktivis mahasiswa tampak unggul adalah eksistensinya atau dalam hal kemampuannya untuk bekerja sama dengan sesamanya. Pendek kata, aktivis mahasiswa memiliki kemampuan berorganisasi lebih. Dengan kemampuan ini, aktivis mahasiswa menciptakan berbagai alat yang membantu pelestarian keadaan lingkungan di sekelilingnya sekaligus perkembangan dirinya. Kerja sama di dalam sebuah organisasi mampu mendorong manusia melakukan hal-hal yang tak mungkin dilakukan, jika ia bekerja sendiri.

Namun, kehidupan di dalam organisasi tidak selalu tenang dan damai. Perubahan terus terjadi yang kerap kali justru menurunkan kinerja organisasi itu sendiri. Hubungan-hubungan kekuasaan yang tak seimbang membentuk budaya organisasi tersebut. Seringkali, ketidakadilan pun terjadi, ketika politik kekuasaan dan ambisi buta muncul sebagai daya dorong utama di dalam organisasi.

Aktivis Penjilat, Pengecut dan Pejuang

Ketika ini terjadi, maka organisasi berubah menjadi organisasi busuk. Di dalam organisasi semacam ini, ada tiga tipe aktivis yang muncul. Yang pertama adalah tipe aktivis penjilat. Aktivis semacam ini sejujurnya minim prestasi, namun suka menjilat dan menipu lingkungan sekitarnya, guna mendapatkan kekuasaan di dalam organisasi. Biasanya, aktivis dengan ciri semacam ini cepat naik jabatan, walaupun tak memiliki pencapaian yang nyata.

Para aktivis penjilat biasanya suka bertindak semena-mena. Kebijakan yang mereka ambil cenderung tidak masuk akal, dan merugikan organisasi. Mereka takut terhadap kritik, karena memang kepercayaan diri dan kebijaksanaan hidup mereka rendah. Jilat penguasa, injak yang di bawah: inilah pola pikir mereka di dalam membuat keputusan.

Tipe aktivis mahasiswa kedua adalah pengecut. Mereka adalah para penonton di dalam organisasi. Mereka minim kreativitas dan minim prestasi. Biasanya, mereka berani bicara di belakang tentang kejelekan orang-orang lainnya, namun tak berani mengambil tindakan nyata.

Aktivis mahasiswa dengan ciri pengecut adalah aktivis pencari aman. Mereka hanya memikirkan keamanan diri dan eksistensi mereka sendiri. Mereka tak punya solidaritas dan kepedulian terhadap orang lain yang sedang kesulitan, pun jika orang lain tersebut adalah teman dekatnya. Namun, keamanan yang mereka peroleh sebenarnya adalah keamanan semu, yang akan segera lenyap, ketika krisis melanda.

Tipe ketiga adalah aktivis mahasiswa pejuang. Mereka adalah para pemikir kritis. Mereka bersuara, ketika melihat masalah dan ketidakadilan. Mereka ingin melakukan perubahan, supaya organisasi menjadi tempat yang lebih baik untuk hidup dan berkarya bagi semua orang. Mereka bersedia berkorban demi nilai-nilai yang mereka perjuangkan.

Mereka memiliki rasa solidaritas yang tinggi. Ketika kesulitan melanda, mereka adalah aktivis yang bergerak cepat untuk memperbaiki keadaan. Namun, mereka kerap kali disalahpahami, terutama oleh para penjilat dan pengecut. Di dalam banyak organisasi, para aktivis yang memiliki karakter pejuang biasanya tersingkir, namun memperoleh hal yang lebih baik setelahnya.

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)

Di PMII, kita tentu tidak ingin ada pemandangan aktivis penjilat dan pengecut. Kita tentu tidak ingin akan ada tunas tumbuh yang menampakkan ciri-ciri yang nantinya berjenis penjilat dan pengecut. Karena tak mengherankan, jika di dalam organisasi PMII dihuni aktivis-aktivis bermental penjilat dan pengecut, nantinya akan berdampak pada kinerja organisasi yang jelek. Akan banyak aktivis PMII meraih jabatan penting, bukan karena pencapaian nyata, tetapi karena menjilat dan menipu. Akibatnya, jabatan yang mereka pegang tidak berjalan dengan baik. Banyak hal terhambat, dan kader-kader yang berproses di PMII mengalami kesulitan, mengingat jabatan tentu selalu terkait dengan kehidupan kader banyak.

Padahal dan ini yang perlu selalu diingat, PMII lahir di tangan para pejuang. Mereka adalah orang-orang yang berani mempertanyakan kekuasaan dan ketidakadilan. Mereka berjuang dan berkorban, berkontribusi untuk mendorong terciptanya kehidupan yang lebih baik bagi bangsanya. Sayangnya, mahluk pejuang ini semakin langka.

Minimal yang paling mungkin bisa kita lakukan adalah berusaha membentuk diri bermental pejuang. Selalu mengingat baik buruknya tiga karakter yang disinggung di atas. Semoga ini yang disebut demi merawat tunas-tunas PMII yang selalu kita harapkan mampu untuk dapat terus bersemi di tengah segala kemarau.

Wallahu ‘a lam…

Standar
Puisi

“Melihat Kesibukan Langit”

Oleh: Fariz Amrullah

Tubuhku terbang
ditarik langit yang sepertinya sejak lama jengkel padaku
Karena beberapa kali tak kupenuhi undangannya

Undangan sekedar ngeteh saat langit menggerimiskan air yang membasahi pepohonan di bukit-bukit

Aku memilih untuk tak beranjak, menunggu buah terjatuh dari satu-satunya pohon di kebunku
Yang kutanam beberapa tahun lalu

Kebunku yang tak seberapa luas namun subur tanahnya
Dan berat rasanya, meninggalkan tak merawatnya
Langit semakin kuat menarikku
Kuraih batang pohon-pohon yang ada, agar tak tertarik
Akar pohon-pohon tercerabut, ranting-ranting patah, daunnya berhamburan.
Dalam kepasrahan angin terus mengangkatku, ia berbisik;

“pohon buah yang kau tanam nanti juga akan berbuah banyak, dan rasanya tentu manis”

Di hadapan teh yang sudah disajikan
Kulihat langit diam saja tak banyak bicara
Sebentar-sebentar aku ditinggalnya kesana kemari
Kadang mewujud hujan
Kadang berparaskan sinar
Kadang melukis pelangi
Katanya, semuanya itu ia lakukan untuk bumi

Ada waktu, bumi dipeluknya
Seketika itu juga, jadilah malam
Yang terus dalam keterjagaan merawat jutaan mimpi-mimpi

Yogyakarta, 14 April 2018

Standar