Mang Didin, Loper Koran yang Saya Kangeni

Oleh Fariz Amrullah

/Kangen; Perasaan wajar yang sering dirasakan manakala ingatan akan kesan-kesan istimewa kembali bertamu menyambangi kita. Sebab itu, maka kita ingin dapat kembali bersua dengan yang kita kangeni itu.

Mengingat masa-masa belasan tahun yang lalu, ketika usia saya masih belia, dan ketika itu menjelang akan masuk Sekolah Dasar (SD). Merasakan pengalaman yang jika direnungkan saat ini, adalah masa yang boleh dikatakan mempengaruhi kesenangan saya dalam membaca. Yaitu masanya orang tua saya berlangganan koran.

Waktu itu koran yang biasa dibaca orang tua saya koran Pikiran Rakyat disingkat “PR”. Mang Didin nama loper koran, setiap hari, di jam siang datang mengantar koran. Di jam siang itu, keluarga sudah bersantai. Bapak-Ibu biasanya sudah pulang dari tugas mengajar. Nah, jadilah koran yang baru diantar Mang Didin, dibaca oleh Bapak dan Ibu saya, bergantian saling tukar halaman. Hingga keduanya (orang tua saya) ngantuk, lalu tidur siang. Pemandangan itu saya saksikan setiap hari.

Adapun saya, dalam hal membaca koran masa itu belum sekafah Bapak-Ibu. Rubrik Sosial-Politik, ekonomi, dsb. saya abaikan. Maklum masih bocah. Belum ada ketertarikan membaca perkara yang saya sebut tadi. Saya biasanya hanya mencari rubrik Olah Raga. Ya! Berita Persib yang selalu menjadi buruan saya. Jadi saya ngefans Persib Bandung sejak kecil. Sejak belum masuk SD. Loh sudah bisa membaca? Ya, saya, dan saudara-saudara saya sudah diajarkan membaca oleh orang tua sebelum masuk Sekolah Dasar.

Kini, setelah belasan tahun. Persis saat saya duduk-duduk seorang diri di beranda rumah selepas isya, ditemani secangkir kopi dan kepulan asap rokok yang saya hisap, menyeruak ingatan pada kenangan masa-masa Mang Didin setiap hari mengantarkan koran, ingatan Bapak-Ibu bertukar halaman koran yang dibaca, ingatan halaman khusus mengulas Persib Bandung, dan yang paling istimewa ialah aroma bau koran yang bau kertasnya sangat khas baru dari cetakan.

Ada kenangan lain terkait yang saya baca awal mula. Majalah Bobo! Kala itu saya sering minta sekalian dibelikan Majalah Bobo oleh Ibu saya ke Mang Didin. Kebetulan Mang Didin menyediakan majalah tersebut. Kesan awalnya selaku bocah langsung tertarik. Majalah edukasi untuk anak-anak yang dipenuhi gambar atraktif dan menghidangkan cerita anak-anak penuh pesan moral. Sayang, entah di mana majalah-majalah itu sekarang.

Mang Didin masuk dalam ingatan saya sebagai sosok penting, membantu dalam hal penyediaan bacaan pada awal mula pertumbuhan saya menuju pertambahan usia. Sosok Mang Didin bisa digambarkan secara fisik; sosoknya kecil, badannya tidak terlalu tinggi. Perangainya sangat santun, menunjukkan kepribadian pekerja keras karena didorong kepedulian mempublikasi bacaan kepada masyarakat. Tak peduli jauhnya daerah yang akan diantar koran. Daerah saya termasuk pedesaan yang terpencil.

Kini sudah lewat belasan tahun dari masa-masa di mana masih dapat melihat sosok Mang Didin yang kulitnya legam kepanasan karena kerjaannya mengantarkan koran-koran saat panas terik. Kini ia tidak pernah datang lagi. Terakhir datang sudah belasan tahun lalu. Padahal saya rindu. Ya rindu pada Mang Didin, ya rindu kebiasaan membaca koran yang diantar mang Didin.

Sembari ketika menyeruput kopi, saya teringat sebuah toko buku/alat tulis di bilangan pasar kecamatan Pamarican, kecamatan yang menaungi desa saya. Di sana saya ingat dulu menyediakan koran PR. Oke, saya memutuskan besok ke sana mencarinya esok. Ngantuk, saya pun berjalan menuju kamar dengan rasa tak sabar esok segera tiba. Seperti tak sabarnya hendak menemui kekasih.

“…Aduh, A, atos lami henteu ngaical deui koran. Da teu aya anu meserna oge” (Yah, Mas, sudah lama di sini tidak menjajakan koran. Pembacanya pun sudah jarang). Rasanya membuat lutut seketika lemas. Mendengar penjaga toko alat tulis yang saya kira masih menjajakan koran. Baiklah, saya berusaha menghibur kekecewaan dengan menunjukan sikap mewajarkan, memang sekarang eranya konvergensi media. Semoga pembaca benar-benar beralih media bacaannya. Dari kertas ke gadget.

Tapi kok rasanya ada yang masih mengganggu pikiran saya. Daerah saya semakin minim akses kesediaan bacaan berbentuk koran. Jika gadget menggantikan koran, mayoritas, apakah betul gadget sudah digunakan untuk mengakses informasi yang dapat menambah wawasan. Belum lagi mengingat pemakainya yang mayoritas golongan anak muda milenial. Apakah benar-benar gadget oleh mereka dimanfaatkan secara positif. Untuk menunjang produktifitas misalnya. Atau minimal membuka laman berita untuk mengetahui perkembangan apa pun yang terjadi di sekitar. Ada tren yang nampak sudah bagus memang, sebagian ada yang memanfaatkannya untuk mempromosikan usahanya. Seperti tetangga saya Kang Ma’un (Saprol) menjadikan IG nya untuk jualan onderdil sepeda motor. Atau kakak perempuan saya, bisnis pakaian anak, dan popok anak lewat medsos. Tren yang perlu diapresiasi.

Jadi, apapun kata kuncinya adalah pengetahuan. Modalnya, bahwa pemahaman untuk memiliki pengetahuan harus terus ditanamkan. Proses awalnya dengan adanya minat membaca harus ada pada benak kita. Pengetahuan atau ilmu, dalam term Islam adalah alat untuk dapat merengkuh kebahagiaan dunia bahkan akhirat.

Bagaimana ketika mengingat dan menyadari bahwa kita menghadapi problem yang menghawatirkan ini. Bahan bacaan sudah minim, bagaimana seyogyanya memanfaatkan gadget belum sepenuhnya dipahami masyarakat di lingkungan saya yang rata-rata memang kelas menengah ke bawah.

Dalam keadaan seperti ini saya sangat kangen Mang Didin. Beri saya semangatmu, Mang! Kalau toh tidak sebagai loper koran, akan saya coba cara lain bergerak di lingkungan bersama-sama masyarakat agar bisa meningkatkan derajat kami sebagai masyarakat melalui kecintaan terhadap sumber ilmu.

Tulisan ini untuk mengenang, sekaligus sebagai ungkapan terimakasih saya kepada Mang Didin, yang jasanya telah memantik saya dalam hal keharusan meluaskan cakrawala pengetahuan hidup di tengah-tengah masyarakat yang bercita-cita merengkuh kebahagiaan bersama. semoga keadaan beliau senantiasa dalam lindungan Allah SWT.